8 Mar 2010

Network Marketing/MLM, Sebuah Alternatif Untuk Sukses

Jujur, saya suka heran sendiri dengan orang-orang yang tidak mau membuka diri terhadap sebuah alternatif bisnis berlabel MLM. Terlebih lagi mereka yang terlihat membutuhkan tambahan income dan tidak tahu harus memulai bisnis apa, di sisi lain mereka terkendala keterbatasan dana. Parahnya lagi, mereka-mereka yang lebih nyaman dengan penghasilannya yang pas-pasan itu tidak mau berpikiran positif, yang hanya menelan mentah-mentah informasi tentang MLM tanpa menelaah lebih lanjut kebenarannya, yang bisanya hanya ”Gebyah Uyah” alias menyamaratakan bahwa semua MLM itu negatif, penipu, dan bisnis ecek-ecek.

Mungkin memang ada yang betul-betul tertipu dan gagal dalam menjalankannya, tapi daripada men-judge bisnisnya, kenapa tidak introspeksi diri sendiri dulu?

Apakah sudah benar-benar paham Plan/sistimnya?
Di MLM manakah dulu berkecimpung?
Bagaimanakah bonafiditas Perusahaannya?
Bagaimanakah kualitas Produknya?
Bagaimanakah orang-orang/People yang berkecimpung didalamnya?

Saya sendiri punya beberapa pengalaman unik dengan sebuah MLM. Beberapa belas tahun yang lalu, di awal tahun 1994 selepas saya lulus SMA saya bersentuhan pertama kali dengan sebuah bisnis bernama MLM yang diusung oleh sebuah perusahaan MLM dari Amerika. Anda mungkin paham MLM apakah itu. Saya diundang oleh seorang teman untuk datang ke sebuah pertemuan di sebuah SMA di kota Magelang. Yang bikin saya terheran-heran, saya langsung disalami oleh orang-orang yang sudah terlebih dahulu hadir disitu dan langsung menyelamati saya seraya menyebutkan bahwa saya bakal sukses! Amin! Tapi... hayah, kenal aja belum, tahu backgrond saya aja endak, tau-tau kok menyelamati saya. Hehehe. Selanjutnya saya dan beberapa orang yang lain dijejali dengan sebuah presentasi sistim bisnis yang saat itu terdengar masih asing buat saya.

Selanjutnya, di pertengahan tahun 1995 saya mendapat undangan serupa dari seorang teman di Yogyakarta untuk datang ke pertemuan – lagi-lagi dari MLM yang sama. Karena kesan terdahulu yang tidak begitu nendang, maka saya memutuskan untuk me-reject saja undangan tersebut.

Sampailah kemudian saya di tahun 2007, dimana saya dan istri yang saat itu baru menikah sedang membutuhkan tambahan penghasilan guna menyokong kehidupan keluarga kami. Datanglah seorang teman yang menawarkan sebuah bisnis yang ada kaitannya dengan pelatihan-pelatihan/training. Nah, karena training dan pelatihan menjadi santapan sehari-hari istri di kantornya, di samping kami memang sedang mencari side income diluar gaji kantoran maka tentu saja kami menyanggupi ajakannya untuk bertemu.

Yang terjadi kemudian sangat jauh diluar bayangan saya. Setelah kami bertemu di sebuah mall di jantung kota Jakarta dan setelah si teman menjelaskan tentang bisnisnya, ternyata training-training atau pelatihan yang dimaksud itu adalah presentasi-presentasi/seminar MLM (lagi2 yang dari Amerika) yang harus kami hadiri!
Ya sudah, kami berhusnudzon saja. Meski undangannya menggunakan jebakan betmen, pastilah si teman punya niat baik untuk mengajak kami sukses. Siapa tahu, MLM Amerika ini sudah lebih baik dan fair sistimnya, dan mungkin peruntungan kami ada di situ.

Tetapi, setelah kami coba ikuti beberapa saat, makin lama kami makin merasa nggak nyaman dengan lingkungan di MLM ini, yang mengharuskan kami untuk mengeluarkan biaya setiap kali pertemuan, yang mengharuskan kami membayar dengan biaya yang cukup mahal untuk menjadi member dan membeli produk, yang mengajarkan kami untuk ’berbohong’ di setiap prospecting. Heran saja, kenapa harus berbohong dan menyamarkan kata-kata untuk prospecting, bukannya MLM Amerika ini perusahaannya bonafid, sudah puluhan tahun eksis, produk-produknya berkualitas, jaringannya sudah menyebar di seluruh dunia, ngapain masih main petak umpet? Terus terang, berbohong bukan style kami. Beside, berbohong bisa menciderai persahabatan, pertemanan, bahkan persaudaraan.

Beranjak dari sinilah saya menjadi lebih paham kenapa MLM banyak tidak disuka, banyak dicibir, bahkan dijauhi. Kami pun lantas mundur teratur dari MLM ini.

Tapi apakah selanjutnya kami mengharamkan sebuah peluang bisnis dari Network marketing?

Sama sekali tidak. Karena sejelek-jeleknya sebuah bisnis MLM, pastilah karena orang-orang yang menjalankannya, bukan karena sistimnya. Toh sistim MLM atau Network Marketing pastilah nggak akan jauh beda, yang intinya memanfaatkan jaringan atau network untuk mencapai up position. Dan menurut saya bisnis MLM tetaplah merupakan sebuah peluang bisnis, sebuah peluang yang justru bisa membantu banyak orang yang nggak punya modal besar untuk memulai sebuah usaha dengan mudah, terutama jika dibandingkan dengan bisnis atau dagang konvensional. Asal sudah menjadi member, pelajari sistimnya sambil jalan, maka hanya dengan bermodalkan katalog produk dan price list maka ia sudah bisa memulai usahanya

Beranjak dari situ, kami tetap membuka diri dan pikiran kami untuk tetap positif terhadap berbagai ajakan yang masuk. Toh kalau kami tidak suka dan tidak cocok, kami masih bisa nolak kok. Dan pastinya, dari hal-hal baru kami bisa belajar – terlepas dari suka atau tidak suka. Sampai akhirnya istri menemukan Oriflame melalui Shanty, seorang teman yang kami kenal melalui situs jejaring sosial Multiply. Kemudian setelah kami pelajari dan dalami, ternyata Oriflame berbeda dan kami anggap lebih baik dari mlm yg lain, setidak-tidaknya yang dari Amerika itu. Dari sisi 4P – Perusahaan, Plan, People, Produk – Oriflame sangat reliable dan dapat diandalkan.

Sistim di Oriflame dan grup bossfamily - grup tempat kami bergabung - sangat terbuka dalam mengembangkan jaringannya dan melakukan cara-cara perekrutan yang elegan. Inilah mengapa kami mantap disini. Lebih lanjut mengenai Oriflame dan Bossfamily akan dituangkan dalam tulisan-tulisan selanjutnya.

Salam sukses selalu !

No comments:

Post a Comment